Wednesday, December 08, 2004

Being well-known does not mean that you are also loved!

Menjadi seseorang yang terkenal bukanlah sesuatu yang penting di dunia ini, karena seringkali kita terluka karena itu. Tetapi ketika banyak orang mencintai kita, kita mungkin terluka, namun banyak orang yang akan membalut luka kita.

Salah satu cara untuk dicintai orang lain adalah ‘intimacy with friends’

Emotional Branding (3)

Some brands make a strong emotionally connections with consumers, while others leave people cold. The difference is the personal connection between brands and their consumers.

“Ten Commandments of Emotional Branding” illustrate the difference between traditional concepts of brand awareness and Emotional Branding :

1. From consumers to people
Consumers buy, people live! Consumer is often approached as enemy whom companies must attack. It’s all about companies against them! Companies break their defenses and strategize to win the battle between companies and consumers. It’s a win-lose solution. But there’s a better tactic to create desire in consumers. This can be achieved by using a win-win solution in Emotional Branding.

2. From product to experience
Products fulfill needs, experiences fulfill desire. Buying just for needs is driven by price and convenience, but buying for experience is not. A product can be new and old one at the same time, if it continues to have emotional relationship with consumers.

3. From honesty to trust
Honesty is expected. Trust is engaging and intimate. It is what you would expect from a friend, not only honesty. One of most powerful moves toward building consumer trust is product return policy which brings total comfort to consumers.

4. From quality to preference
Quality for the right price is usual today. Preferences create sales. Quality is needed if we want to stay in business; it is expected and should be delivered. But preference toward a brand is the real connection to success.

5. From notoriety to aspiration
Being well-known does not mean that you are also loved! If you want to be desired, you have to do something that touches people at the level of their aspiration. It’s not only about awareness, but also about how to make a strong connection with consumers.

6. From identity to personality
Identity is recognition. Personality is about charisma and character. Brand personalities have a charismatic character that provokes an emotional response.

7. From function to feel
Functionality of a product is about practical or superficial qualities only. Sensorial design is about experiences. Functionality can become trite if its appearance and usage are not also designed for the senses.

8. From ubiquity to presence
Ubiquity is seen. Emotional presence is felt.

9. From communication to dialogue
Communication is telling. Dialogue is sharing. Communication is primarily about information, and information is a one-way proposition. Take it and like it hopefully! Many companies spent a lot of budget on advertising and used a bomber approach : bomb consumers with advertising every time. But promotions, public relations ( PR ), brand presence can do more than one-way communication. ( See The Fall of Advertising, The Rise of PR ).

10. From service to relationship
Service is selling. Relationship is acknowledgement. Who does not feel special when someone in a store or restaurant welcomes you by your own name! Service involves a basic level in an exchange. It is what allows or prevents a sale from taking place. But relationship means that brands really seek to understand and appreciate who their consumers are.

Sometimes Friendship and Love Come From The Unimportant Things

Beberapa bulan lalu saya belajar satu hal, bahwa persahabatan dan cinta dapat berasal dari hal-hal tidak penting. Pembelajaran itu muncul ketika saya memiliki banyak waktu untuk diri sendiri dan mengamati hal-hal yang terjadi di sekitar saya.

Apa sih hal yang penting bagi anak-anak ITB? Belajar… Ujian… Tugas… Mencapai cita-cita diri sendiri… Tetapi kita tidak punya banyak waktu membangun persahabatan. Begitu banyak potensi persahabatan di sekitar kita, namun kita tidak pernah menyadarinya, dan kita terlalu banyak mengurusi hal-hal yang penting.

Saya belajar bahwa :
“Friendship and love sometimes come from the unimportant things”

Emosi Membutuhkan Katup Sebagai Pelepas

Beberapa bulan lalu saya menyadari bahwa hidup membutuhkan emosi. Sebelumnya saya selalu berusaha untuk mengingkari emosi yang sedang bergejolak dan yang ingin keluar dari hati. Tapi kegagalan beberapa bulan lalu membuat saya sadar bahwa hidup membutuhkan emosi dan saya butuh untuk mengekspresikan apa yang ada di dalam hati saya.

Hidup selama hampir 4 tahun dengan kesibukan luar biasa membuat saya selalu menggunakan rasio, dan mematikan emosi saya. Saya tidak punya banyak waktu untuk diri saya sendiri. Ketika kegagalan terjadi, barulah saya sadar bahwa kehidupan saya sangat tidak seimbang. Dan emosi saya keluar, tanpa bisa ditahan-tahan lagi.

Saya percaya bahwa emosi membutuhkan katup sebagai pelepas. Seringkali kita berusaha untuk menolak emosi yang akan keluar dari hati, dan hal itu menutup katup yang sebenarnya terbuka setiap hari, ketika kita mengalami berbagai hal setiap harinya.

Sejak saat itu, saya lebih toleran terhadap sang emosi yang ingin keluar dari hati. Dan hidup terasa lebih mudah, karena saya membiarkan katup emosi tersebut terbuka.

Friday, December 03, 2004

Aku berpijak, tapi tak kutahu di mana Aku berpijak
Kebimbangan mencekamku, menyerangku dan siap memakan aku
Aku terhimpit udara yang menyesakkan nafasku,
dan hampir aku tidak mampu bernafas lagi
Aku takut dan gentar!
Aku bingung dan menjadi seperti orang bodoh
Aku bosan dan merasa jemu
Aku lesu! Aku letih!

Diriku sendiri yang meremukkan aku
Aku berjuang melawan diriku sendiri,
dan Aku dikalahkan oleh diriku sendiri

Aku tenggelam. Semarakku sirna. Tiada tempat bagiku untuk bertumpu

Aku terperosok amat dalam
Aku sengsara
Tubuhku kehilangan tenaga dan remuk redam Aku!
Keluh keluar dari mulutku
Kering bibirku karena panas matahari menghanguskanku
Sinar mataku dan cahaya wajahku tidak ada lagi
Semuanya bagai kekelaman tanpa ujung

Aku malu terhadap lawan-lawanku
Mereka mengelilingiku dan mengolok-olokku

Aku mengharapkan belas kasihan, tapi tiada yang menghampiriku
Aku tertindas oleh diriku sedniri
Aku kesakitan dan menantikan pertolongan

Ketika segala sesuatu tampak berlawanaan denganku, dan membawaku kepada keputusasaan, Aku tahu ada satu pintu terbuka bagiku dan ada satu telinga mendengarku


"Untuk semua yang memberikan cinta kepadaku. Itulah kekuatanku"

Precious Gift

When love grows in your heart
It doesn’t mean that you have to neglect your friends
When someone has stolen your heart
It doesn’t mean that friends are nothing

When you are becoming older & older
It doesn’t mean your friendship is over
When you start to have new friends
It doesn’t mean that your old friends are garbage

Maybe friendship isn’t everything
And very often love beats friendship
But one thing is for sure
Without it, we are nothing!
In fact, friends and friendship are precious gifts from God
Keep it in mind!

Emotional Branding (2)

Pada tulisan sebelumnya saya menulis bahwa konsumen tidak hanya menikmati nilai fungsi dari sebuah produk, tetapi juga nilai emosi yang sengaja diciptakan bagi produk tersebut. Hal tersebut sangat wajar, karena manusia memiliki rasio dan emosi yang kedua-duanya harus diberi makan.

Beberapa tahun belakangan ini, saya mengalami depresi. Puncaknya adalah pada saat saya berada di tingkat empat TI ITB, ketika tubuh dan otak saya menjadi sibuk sementara jiwa dan emosi saya duduk-duduk santai. Saya tidak menyadari penyebab depresi saya sampai saya memiliki banyak waktu untuk berpikir dan merenung. Ketika waktu menjadi begitu banyak dan memaksa saya untuk merenung dan memainkan emosi saya, hidup menjadi lebih mudah. Saya bisa menangis. Saya bisa tertawa. Saya bisa berempati. Saya menjadi menyayangi teman-teman saya. Saya marasakan cinta.

Saya menyadari bahwa hidup harus seimbang antara emosi dan rasio. Dan saya percaya semua manusia membutuhkan makanan bagi emosi dan rasio mereka. Dunia masa depan akan semakin maju dan akan semakin banyak hal yang membutuhkan rasio. Beban kerja fisik berubah menjadi beban kerja otak. Apabila tidak ada emosi, dunia ini akan menjadi membosankan dimana semua orang bekerja tanpa membangun cinta dan persahabatan. Oleh karena itu, di masa depan akan semakin banyak kebutuhan akan emosi, yang salah satunya bisa didapatkan melalui produk. Konsumen-konsumen masa depan akan menjadi dream society ( Rolf Jensen ).

Jensen menemukan setidaknya sudah terbentuk enam pasar besar masyarakat pemimpi ini. Keenam pasar tersebut: (1) the market for adventure, (2) the market for togetherness, friendship and love, (3) the market for care, (4) the who-am-I market, (5) the market for peace of mind, dan (6) the market for convictions

The Market for Adventure
Pasar seperti ini membutuhkan nilai petualangan dari sebuabh produk. Produk dibangun dan dipasarkan dengan semangat berpetualang. Contohnya adalah cara yang dipakai perusahaan-perusahaan rokok seperti Djarum dan Dji Sam Soe. Iklan-iklan Djarum biasanya menampilan petualang-petualang. Dji Sam Soe dengan ‘menembus batas’nya menceritakan petualangan eksekutif muda di perusahaannya sampai ia mendapatkan mobil mewah ( baca : kesuksesan ). Spirit petualangan ini dipakai marketer agar konsumennya membeli produk tersebut.
Arloji Rolex adalah contoh lainnya. ”Kalau Anda mencari arloji karena fungsinya saja, yaitu ketepatan waktu, cukup membayar US$ 10. Tapi, bila Anda ingin mendapatkan lebih dari itu, harus membayar US$ 15.000 untuk cerita dan getaran-getaran emosionalnya,” kata orang-orang Rolex. Rolex mengembangkan konsep Spirit of Enterprise dengan mengeluarkan Rolex Award for Enterprise Journal. Dalam jurnal itu disajikan beberapa cerita yang dikirim oleh achiever - begitu Rolex menyebutnya- tentang pengalamannya meraih prestasi bersama Rolex. Cerita-cerita nyata itu lalu diedarkan di segmen super-premium.


The Market for Togetherness, Friendship and Love
Pasar ini menikmati nilai cinta, persahabatan dan kebersamaan yang dimiliki produk. Hampir semua produk parfum dipasarkan dengan pendekatan ini. Saya masih ingat salah satu iklan produk pewangi pakaian Molto sebulan terakhir. Di iklan itu digambarkan kasih sayang seorang ibu kepada anaknya.

Saya sangat suka sekali dengan lirik nyanyian yang mengiringi iklan tersebut :

“Knowing that love is to share. Here… there… and everywhere”

Jelas sekali produk tersebut menambahkan nilai cinta antara seorang ibu dengan anaknya, seolah-olah iklan tersebut berkata, “Apabila Anda mencintai anak Anda, Anda seharusnya menambahkan Molto pada cucian anak Anda…”

Pendekatan ini juga dipakai Hallmark –produk kartu ucapan di Amerika Serikat- dalam membangun mereknya. Iklan-iklan Hallmark begitu menggoda dan langsung menyentuh sanubari emosi pelanggannya.
Di Amerika Serikat iklan-iklan Hallmark dinilai banyak ahli berhasil. Bayangkan ketika dua sahabat lama bertemu. Mereka berpelukan sambil meneteskan sedikit air mata, dan orang di sekitarnya berkata: "It's a 'Hallmark' moment." Bagi masyarakat Amerika, Hallmark adalah ungkapan kasih sayang, bukan lagi hanya sebuah kartu.

The Who-Am-I Market
Pasar ini disebut dengan pasar jati diri. Pasar dimana konsumennya menyatakan self atau dirinya melalui barang atau aksesoris yang melekat pada dirinya, seperti pakaian, arloji, pena, tato, dan perhiasan sampai yang tidak melekat pada dirinya seperti mobil, rumah, dan gelar. Konsumen-konsumen dalam pasar ini mencari jati dirinya melalui barang-barang duniawi yang dimiliki.

Saya ingat iklan telepon selular CDMA Friend yang menonjolkan motto, “Hari gini... ga punya handphone!” Iklan tersebut jelas membidik pasar who-am-I market. Ponsel menjadi barang yang wajib dimiliki semua orang, apabila ingin memiliki status dalam masyarakat. Pasar ini bagi sebagian orang adalah misteri besar. Namun, begitu dikuak nyatalah bahwa misteri itu sebuah kerajaan besar yang punya keinginan membeli sangat besar.
Penganut pasar Who-am-I ini ada baiknya merenungi sajak yang ditulis seorang napi di Amerika ketika dia akan dihukum mati. Sajak ini ditemukan beberapa saat setelah napi itu dieksekusi. Judulnya Man in the Mirror. Simaklah isinya:

Jika Anda berjuang dan mendapatkan apa yang Anda mau Dan dunia membuat Anda
menjadi raja sehari Pergilah ke kaca dan tataplah dirimu Dengarkan apa yang
dikatakan oleh orang dalam kaca

Ia bukanlah bapak, ibu atau istri Yang
selalu harus berpihak kepadamu Orang yang sangat berpengaruh terhadap dirimu
Adalah orang yang menatapmu di kaca tersebut

Ia adalah orang yang harus
Anda layani Karena ia dan Anda yang menjalani sampai akhir Dan Anda telah
berhasil melalui ujian terberat dan paling berbahaya, Jika Anda dan orang dalam
kaca tersebut berhasil menjadi teman.

Anda bisa saja menipu seluruh
dunia Serta membuat semua orang bertepuk tangan Namun yang Anda dapat hanyalah
sakit hati dan air mata, Jika Anda menipu orang di dalam kaca.



The Market for Peace of Mind
Dalam bukunya yang berjudul Thingking in The Future Tense, Jennifer James menulis bahwa terdapat kecenderungan bagi manusia untuk mengagung-agungkan dan meromantiskan masa lalu. Pada zaman pemerintahan Bung Karno dan awal Soeharto banyak orang tua yang mengimpikan kembali ke ”zaman normal”. Kapan ”zaman normal” itu? Itulah zaman penjajahan Belanda. Mereka menganggap kala itu pemerintahan lebih bersih, tertib, disiplin, dan banyak hal yang menyenangkan. Mereka tidak peduli bahwa di era Republik mereka lebih bebas dan merdeka. Yang mereka tahu itu adalah zaman tidak normal. Hal serupa juga mulai terjadi dewasa ini. Ketika para elite bertengkar terus bak anak kecil berebut mainan, mulai banyak orang yang bermimpi kembali ke era Soeharto yang stabil dengan kurs dolar kurang dari Rp 2.500. Era itu dalam literatur perilaku dikenal dengan sebutan good old days: suatu era yang indah di masa lalu. Gambaran masa lalu itu begitu indah, meski sebenarnya tidak sungguh-sungguh indah dan pasti ada cacat-cacatnya juga.

Bagi sebagian orang, masa lalu tampaknya lebih baik dari hari ini; meski restoran tetap penuh, mal tetap ramai, ekspor naik terus, penjualan otomotif telah kembali seperti semula. Mereka tetap percaya masa lalu lebih baik. Greenpeace, seperti dikutip Rolf Jensen, adalah sebuah global company. Tujuan perusahaan ini adalah ”To create a green and peaceful world.” Bagi Greenpeace, dunia yang damai adalah dunia masa lalu, ketika manusia dan alam hidup menyatu dan tidak saling merusak. Alam adalah alam, dan setiap spesies dapat hidup bebas tanpa risiko penghancuran oleh tangan manusia.

Link :

www.emotionalbranding.com